Februari 2026 bukan bulan buat sok jago, ini bulan buat trader yang mau tetap hidup di market.
Berdasarkan perbandingan performa tahunan Bitcoin, kondisi saat ini belum menunjukkan karakter awal bull market. Tahun berjalan masih berada di zona negatif dan lebih menyerupai fase konsolidasi atau distribusi, mirip periode lemah seperti 2019 atau awal 2022, bukan fase akselerasi seperti 2020 atau 2023. Probabilitas terbesar di Februari ini adalah sideways hingga tekanan turun (±60%), dengan peluang relief bounce sementara (±30%), sementara bull continuation masih kecil (±10%) karena belum ada konfirmasi struktur yang kuat. Artinya, ini bukan waktu untuk all-in atau hold dengan harapan pasar “pasti naik”, melainkan fase wait & react: fokus short-term atau swing, entry di area support, ambil profit realistis, dan disiplin cut loss. Di kondisi seperti ini, bertahan dan menjaga modal adalah edge, karena market selalu memberi konfirmasi sebelum benar-benar bergerak.
Kalau kamu mau belajar baca market tanpa nebak-nebak dan berkembang pelan tapi konsisten, follow Menjadi Trader. Gratis, kita grow bareng.
SMM: Semoga Market Merestui 🚀
#Bitcoin #BTC #CryptoMarket #TradingCrypto #RiskManagement #NoFOMO #TraderIndonesia #MenjadiTrader
Masuk trading itu gampang karena iming-iming profit.
Bertahan di trading itu susah karena realita loss.
Masalahnya, banyak trader mempersiapkan modal jauh lebih serius daripada mental.
Begitu rugi, emosi ambil alih. Entry bukan lagi berdasarkan plan, tapi dorongan buat “balik modal”.
Mental trading dibangun dari kebiasaan kecil.
Salah satunya: kurangi exposure ke chart kecil yang bikin impulsif dan overtrade.
Market bisa bergerak liar kapan saja.
Trader yang siap mental tetap bisa berpikir jernih, bahkan setelah dihantam pergerakan besar.
Trading bukan soal siapa paling cepat masuk.
Tapi siapa yang paling stabil saat market nggak ramah.
Kalau kamu, apa jurus andalan biar nggak trading pakai emosi?
Bitcoin Tertekan Tajam: Bukan Satu Faktor, Ini Kombinasi Tekanan Global
Penurunan harga Bitcoin belakangan ini dipicu oleh rangkaian faktor besar yang terjadi hampir bersamaan. Dari sisi global, memanasnya konflik Timur Tengah antara AS dan Iran mendorong pasar masuk ke mode risk-off, membuat investor menjauhi aset berisiko seperti kripto, apalagi di kondisi likuiditas yang tipis.
Tekanan makin berat setelah Presiden AS menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed. Sosok Warsh dikenal hawkish, sehingga pasar mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Dampaknya langsung terasa pada aset spekulatif, termasuk Bitcoin.
Dari sisi institusional, Bitcoin ETF di AS mencatat outflow sekitar US$1,1 miliar. Arus keluar ini menandakan aksi distribusi besar-besaran dan hilangnya buyer institusi yang sebelumnya menopang harga. Bersamaan dengan itu, sebagian modal berotasi ke aset safe haven seperti emas dan perak, yang sedang reli kuat hingga emas dilaporkan menembus US$5.600.
Tekanan internal market juga tak kalah besar. Leverage tinggi di pasar derivatif memicu likuidasi berantai saat harga mulai melemah. Penjualan dari miner turut memperparah kondisi, ditambah gangguan hashrate akibat badai musim dingin di beberapa wilayah AS. Semua ini diperkuat oleh sentimen makro: kekhawatiran resesi global, isu government shutdown AS, dan pelemahan pasar saham.
Singkatnya, ini bukan crash karena satu berita, melainkan efek domino dari geopolitik, kebijakan moneter, institusi, dan struktur market itu sendiri. Ikuti akun Menjadi Trader untuk insight market yang lebih jernih dan kontekstual, agar tidak mudah terjebak panik saat volatilitas datang. #menjaditrader #bitcoin #crypto #marketupdate #macro
NFA, DYOR.
Wawasan BTC
Bitcoin mengalami pukulan keras. Dalam 24 jam terakhir, harga terkoreksi lebih dari 6%, disertai likuidasi masif dan tekanan makro yang belum reda.
🔴 Tekanan jual masih dominan
Struktur teknikal jelas lemah. EMA jangka pendek hingga panjang sejajar ke bawah, menegaskan tren bearish yang belum selesai. Likuidasi besar mempercepat penurunan dan memperlebar volatilitas.
🌍 Makro memperkeruh keadaan
Isu geopolitik, ketidakpastian kebijakan AS, dan aksi jual institusional membuat pasar masuk fase defensif. Ini bukan sekadar koreksi teknikal tapi reaksi risk-off global.
🟢 Namun sinyal kelelahan mulai muncul
RSI sudah masuk area oversold, sementara arus masuk stablecoin meningkat. Ini sering jadi tanda awal bahwa tekanan jual mulai kehilangan tenaga.
⚠️ Setup berisiko tapi menarik Open Interest justru naik saat harga turun situasi yang berpotensi memicu short squeeze jika penurunan gagal berlanjut.
➡️ Kesimpulan: tren masih bearish, tapi pasar mulai ekstrem. Fase seperti ini biasanya penuh jebakan baik untuk bull maupun bear.
Everyone remembers Plasma as an old Ethereum scaling idea, but few see how far it’s evolved
I’ve watched Plasma grow from Ethereum’s original offchain framework, focused on exits and fraud proofs, into something far more practical today
Modern @Plasma with $XPL isn’t about complex user exits anymore
It’s about stablecoin native settlement, zero fee transfers, and finality designed for real payments
The philosophy stayed the same scale without sacrificing security, but the execution matured with better incentives, validators, and UX
This evolution shows how early ideas don’t die, they adapt
So, is modern Plasma finally ready to power global stablecoin rails at scale?
#Plasma