APAKAH EMAS BENAR-BENAR MENJADI TEMPAT PERLINDUNGAN YANG AMAN DI TENGAH PERANG DI MASA DEPAN?

Dalam setiap periode ketidakstabilan, perang, atau ketegangan geopolitik, reaksi umum dari mayoritas adalah: membeli emas. Emas dianggap sebagai aset perlindungan tertinggi, yang telah mempertahankan nilai selama ribuan tahun melewati berbagai krisis, keruntuhan mata uang, dan perang dunia. Namun pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apakah logika itu masih berlaku dalam konteks perang modern?
Sejarah seringkali dijadikan bukti. Setelah Perang Dunia I dan II, emas masih ada, manusia masih ada, dan emas terus memainkan peran sebagai ukuran nilai. Tapi di sinilah, banyak orang mencampuradukkan masa lalu dengan masa depan, sementara sifat perang saat ini telah sepenuhnya berbeda.
Perang abad ke-20 sebagian besar adalah perang konvensional: senjata api, tank, bom konvensional. Meskipun mengerikan, ia masih meninggalkan dunia yang dapat dibangun kembali. Manusia masih cukup banyak untuk mempertahankan masyarakat, ekonomi, dan oleh karena itu emas masih dibutuhkan.
Namun perang abad ke-21 tidak lagi sekadar seperti itu. Senjata nuklir, biologis, kimia, perang siber, AI militer, dan sistem otomatis penghancur telah sepenuhnya mengubah permainan. Sebuah konflik yang meningkat secara menyeluruh saat ini tidak hanya bertujuan untuk menang, tetapi dapat menyebabkan kehancuran sistem, bahkan eksistensi umat manusia.
Dan ketika ditempatkan dalam skenario itu, sebuah pertanyaan dingin tetapi penting muncul:
Jika emas masih ada, tetapi manusia tidak ada — atau terlalu sedikit untuk mempertahankan sebuah peradaban — maka di mana nilai emas itu?
Nilai emas, pada akhirnya, tidak berasal dari logam itu sendiri, tetapi berasal dari kepercayaan kolektif manusia. Ketika tatanan sosial runtuh, rantai pasokan hilang, prioritas manusia tidak lagi menyimpan aset, tetapi air bersih, makanan, energi, obat-obatan, dan keselamatan bertahan hidup. Dalam dunia seperti itu, emas mungkin hanya logam berat, mengkilap tetapi tidak berguna.
Ini tidak berarti bahwa emas akan "tidak berharga" dalam setiap skenario. Tapi ini menunjukkan kesalahan umum dari banyak orang: menganggap bahwa emas selalu naik harga setiap kali ada ketidakstabilan, tanpa membedakan ketidakstabilan ekonomi dari ketidakstabilan yang bersifat menghancurkan sistem.
Dalam krisis keuangan, inflasi, resesi — emas masih memiliki peran. Tetapi dalam skenario kiamat, perang yang menghancurkan secara menyeluruh, pertanyaannya bukan lagi berapa harga emas, tetapi apakah masih ada orang untuk menilai itu atau tidak.
Investasi bukan hanya tentang mengejar aset "aman" secara naluriah, tetapi adalah memahami sifat risiko di setiap era. Dan mungkin, di era baru ini, yang paling berbahaya bukanlah memilih aset yang salah, tetapi berpikir dengan model yang sudah usang.


