Setelah lebih dari 60 tahun membentuk investasi modern, Warren Buffett secara resmi mengundurkan diri sebagai CEO Berkshire Hathaway, menandai akhir dari salah satu masa jabatan yang paling berpengaruh dalam sejarah korporat. Di usia 94 tahun, Buffett menyerahkan kendali operasional sehari-hari kepada Greg Abel, sementara tetap sebagai ketua—memastikan kontinuitas bahkan saat sebuah era dengan tenang berakhir.
Kepergian Buffett lebih dari sekadar perubahan kepemimpinan. Ini mewakili kesimpulan dari sebuah filosofi yang mendefinisikan generasi: investasi nilai yang disiplin, kesabaran yang diukur dalam dekade, dan keyakinan mendalam bahwa kekayaan dibangun pada aset yang produktif dan menghasilkan kas, bukan spekulasi.
---
Investor yang Tidak Pernah Membeli Cerita Bitcoin
Di tahun-tahun terakhirnya, Buffett hampir sepopuler karena apa yang ditolaknya daripada apa yang dibelinya—terutama Bitcoin.
Skepsis tegasnya menjadi bagian dari budaya populer pada tahun 2018, ketika dia menyebut Bitcoin sebagai 'racun tikus kuadrat' dalam wawancara dengan CNBC, saat pasar kripto sedang pulih dari keruntuhan sejarah. Tapi yang benar-benar memperkuat sikapnya adalah komentarnya pada pertemuan pemegang saham Berkshire tahun 2022.
Buffett memberi tahu ribuan investor bahwa bahkan jika seseorang menawarkan semua Bitcoin di dunia seharga $25, dia tidak akan menerimanya.
Alasannya sederhana—dan konsisten dengan seluruh karya hidupnya: aset harus melakukan sesuatu. Lahan pertanian menghasilkan tanaman. Apartemen menghasilkan sewa. Bisnis menghasilkan barang, jasa, dan laba. Bitcoin, menurut Buffett, tidak melakukan salah satunya.
Bagi dia, nilai bukan soal kenaikan harga—tapi soal manfaat.
---
Kata-kata Munger yang Lebih Tegas
Buffett tidak sendirian. Mitra lamanya, Charlie Munger, bahkan lebih pedas dalam penilaiannya terhadap kripto.
Pada pertemuan tahunan Berkshire 2021, Munger menyebut Bitcoin sebagai 'menjijikkan dan bertentangan dengan kepentingan peradaban.' Dalam wawancara lanjutan dengan Wall Street Journal, dia mengatakan bangga bahwa Berkshire benar-benar menghindari kripto, kemudian membandingkan promosi kripto dengan penyakit sosial dan menolak seluruh sektor ini dengan kecaman yang pedas.
Bersama-sama, Buffett dan Munger membentuk pasangan anti-kripto paling terkemuka dalam keuangan global—tidak tergoyahkan oleh lonjakan harga, ETF, atau adopsi institusi.
---
Dari Pabrik Tekstil Menjadi Raksasa Triliun Dolar
Namun, warisan Buffett berakar kuat pada apa yang telah dia bangun.
Dia mulai membeli saham Berkshire pada awal tahun 1960-an ketika perusahaan ini merupakan perusahaan tekstil yang kesulitan, dengan harga saham sekitar $7,60 per saham. Selama puluhan tahun, dia mengubahnya menjadi konglomerat besar yang mencakup asuransi, kereta api, energi, manufaktur, dan merek konsumen.
Hari ini, saham kelas A Berkshire Hathaway diperdagangkan di atas $750.000, dan nilai pasar perusahaan mendekati $1 triliun.
Kekayaan pribadi Buffett—diperkirakan mendekati $150 miliar—dibangun hampir seluruhnya melalui saham Berkshire. Luar biasanya, dia sudah memberikan lebih dari $60 miliar untuk amal, yang memperkuat keyakinannya lama bahwa kekayaan membawa tanggung jawab.
---
Akhir Era, Bukan Pengaruh
Ketika Buffett mundur, perdebatan yang dibentuknya terus berlanjut. Bitcoin kini memiliki ETF, adopsi oleh negara, dan legitimasi institusi yang semakin besar—tapi tidak satu pun dari itu mengubah pendiriannya. Bagi Buffett, berinvestasi bukan soal tren atau inovasi teknologi. Ini soal daya tahan, laba, dan kepercayaan yang dibangun seiring waktu.
Pensiunnya tidak menyelesaikan perdebatan antara investasi nilai dan aset digital—tapi justru menutup babak bagi skeptis paling terkenal di dunia.
Apakah sejarah akhirnya mendukung Bitcoin atau Buffett, satu kebenaran tak terbantahkan: sedikit investor yang pernah membentuk keuangan global—atau perdebatan publik—secara mendalam seperti ini.

