Iran telah menunjuk Pemimpin Tertinggi baru setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan terbunuh dalam serangan udara bersama AS-Israel pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menandai eskalasi besar dalam konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung yang sering disebut sebagai Perang Iran 2026. Setelah beberapa hari ketidakpastian dan kekhawatiran keamanan seputar Majelis Ahli, pejabat Iran mengonfirmasi bahwa seorang pengganti telah dipilih untuk memimpin negara selama krisis geopolitik saat ini.

Majelis Ahli memilih Mojtaba Khamenei, putra berusia 56 tahun dari pemimpin sebelumnya, sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Iran. Media negara Iran dan beberapa agen berita internasional melaporkan bahwa ia memperoleh suara mayoritas yang menentukan, meskipun pengumuman resmi ditunda hingga akhir hari Minggu. Tokoh-tokoh senior Iran, termasuk Ketua Dewan Keamanan Ali Larijani, mendesak persatuan nasional dan menekankan bahwa transisi kepemimpinan menunjukkan kontinuitas politik. Korps Pengawal Revolusi Islam juga berjanji setia penuh kepada pemimpin yang baru ditunjuk.

Mojtaba Khamenei, lahir pada tahun 1969, telah lama dianggap sebagai tokoh berpengaruh tetapi berkadar rendah dalam lingkaran politik dan keamanan Iran, sering beroperasi di balik layar dalam kantor ayahnya. Penunjukannya secara luas diartikan sebagai kelanjutan dari struktur kekuasaan yang ada dalam Republik Islam. Perkembangan ini menarik reaksi kuat secara internasional, dengan Amerika Serikat dan Israel mengkritik keputusan tersebut sementara kekuatan regional memperingatkan bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat meningkat lebih lanjut. Sementara itu, pejabat Iran menggambarkan perubahan kepemimpinan sebagai simbol stabilitas dan perlawanan di tengah konflik yang sedang berlangsung.

#iran'snewsupremeleader