Pada akhir tahun 2025, ekonomi global melampaui ambang batas bersejarah lainnya. Total utang global melonjak menjadi $348 triliun. Dalam hanya satu tahun, hampir $29 triliun ditambahkan — peningkatan tahunan tercepat sejak lonjakan era pandemi. Angka-angka ini berasal dari laporan Global Debt Monitor terbaru oleh Institute of International Finance (IIF).

$348 triliun mewakili sekitar 308% dari PDB global. Dalam istilah sederhana, dunia berutang lebih dari tiga kali lipat dari apa yang diproduksinya dalam setahun.

Siapa Berutang Apa?

Dari total 348 triliun dolar dalam utang global, pemerintah berutang sekitar 106,7 triliun dolar. Perusahaan non-keuangan berutang sekitar 100,6 triliun dolar, sementara utang rumah tangga mencapai sekitar 64,6 triliun dolar. Sisanya milik sektor keuangan, termasuk bank dan lembaga keuangan lainnya. Ini jelas menunjukkan pergeseran penting dalam ekonomi global.

Pemerintah sekarang adalah peminjam terbesar dan telah menjadi kekuatan utama di balik peningkatan utang global.

Mengapa Pemerintah Meminjam Begitu Banyak?

Lebih dari 10 triliun dolar dari peningkatan 2025 berasal dari pinjaman pemerintah saja. Hampir 75 persen dari kenaikan itu didorong oleh tiga ekonomi besar: Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa.

Ini adalah ekonomi terbesar di dunia. Keputusan fiskal mereka mempengaruhi likuiditas global, pasar obligasi, dan suku bunga.

Amerika Serikat tetap menjadi debitor terbesar di dunia dalam istilah absolut. Utang nasionalnya telah melampaui 38 triliun dolar. Itu berarti AS sendiri menyumbang sekitar 11 persen dari total utang global. Rasio utang terhadap PDBnya mendekati 120 persen, yang berarti negara ini berutang lebih dari yang diproduksinya dalam setahun.

China adalah debitor terbesar kedua dalam istilah absolut, dengan utang pemerintah diperkirakan sekitar 18 triliun dolar. Rasio utangnya terhadap PDB sekitar 90 persen, lebih rendah dari AS. Namun, total beban utang China menjadi jauh lebih besar ketika pinjaman korporasi dan pemerintah lokal dimasukkan. Model pertumbuhannya sangat bergantung pada kredit dan investasi.

Jepang juga termasuk di antara negara-negara debitor terbesar, dengan utang pemerintah mendekati 10 triliun dolar. Apa yang membuat Jepang unik adalah rasio utang terhadap PDBnya yang sangat tinggi, yang melebihi 230 persen — yang tertinggi di dunia. Namun, sebagian besar utang Jepang dimiliki secara domestik. Ini mengurangi risiko tekanan mendadak dari investor asing.

Permintaan Kuat untuk Obligasi Treasury AS

Ada banyak diskusi tentang neraca fiskal AS yang lemah dan meningkatnya defisit. Beberapa percaya investor asing sedang menjauh dari Amerika Serikat karena upaya diversifikasi dan de-dolarisasi.

Namun, menurut laporan tersebut, permintaan untuk sekuritas utang AS tetap kuat. Status tempat berlindung yang aman dari obligasi Treasury AS terus berlanjut. Investor asing masih membeli aset AS, termasuk Treasury, saham, dan obligasi korporasi. Permintaan yang kuat ini didukung oleh kinerja ekonomi AS yang relatif solid.

Ini bertentangan dengan narasi terbaru bahwa modal asing meninggalkan Amerika Serikat. Sejauh ini, investor global masih melihat pasar keuangan AS sebagai stabil dan andal dibandingkan banyak alternatif.

Utang Pemerintah vs Utang Swasta

Setelah pandemi, utang sektor swasta telah melambat sedikit. Namun, utang pemerintah terus meningkat.

Ada alasan sederhana untuk perbedaan ini. Perusahaan swasta biasanya meminjam untuk berinvestasi dan menghasilkan keuntungan. Jika investasi mereka gagal, mereka mengurangi pinjaman. Pemerintah, di sisi lain, meminjam untuk mendanai pengeluaran publik, pertahanan, infrastruktur, program sosial, dan komitmen politik. Tekanan politik kadang-kadang dapat mendorong pinjaman lebih tinggi, bahkan ketika disiplin fiskal melemah.

Defisit anggaran yang persisten, meningkatnya pengeluaran pertahanan, proyek infrastruktur, dan subsidi semuanya telah berkontribusi pada peningkatan utang pemerintah yang stabil.

Utang vs Pertumbuhan: Ketidakseimbangan yang Meningkat

Kekhawatiran terbesar bukan hanya utang yang meningkat. Ini adalah kesenjangan antara pertumbuhan utang dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut proyeksi dari Dana Moneter Internasional, pertumbuhan global pada tahun 2026 diharapkan sekitar 3,1 persen. Ekonomi maju mungkin tumbuh sekitar 1,6 persen, sementara pasar berkembang dapat berkembang sekitar 4 persen.

Sekarang bandingkan itu dengan pertumbuhan utang. Jika utang meningkat sebesar 8 hingga 10 persen per tahun sementara ekonomi tumbuh hanya 3 hingga 4 persen, beban meningkat. Utang bertambah lebih cepat daripada pendapatan.

Inilah sebabnya mengapa rasio utang terhadap PDB pasar berkembang telah meningkat di atas 235 persen, mencapai level tertinggi dalam sejarah.

Pada tahun 2026, pasar berkembang akan perlu refinancing lebih dari 9 triliun dolar dalam utang. Negara maju harus refinancing lebih dari 20 triliun dolar. Refinancing berarti mengambil pinjaman baru untuk membayar utang lama.

Jika suku bunga global meningkat atau dolar AS menguat, refinancing menjadi lebih mahal. Mata uang lokal mungkin melemah. Biaya utang luar negeri bisa meningkat. Investor mungkin menarik dana. Pasar obligasi bisa menghadapi tekanan. Jenis tekanan ini sering kali memicu krisis keuangan di masa lalu.

Pinjaman Korporasi dan Supercycle AI

Setelah pemerintah, korporasi non-keuangan adalah peminjam terbesar kedua. Utang mereka sekarang melebihi 100 triliun dolar.

Salah satu pendorong utama di balik pinjaman ini adalah gelombang investasi baru yang terkait dengan kecerdasan buatan, pusat data, manufaktur semikonduktor, energi hijau, dan restrukturisasi rantai pasokan.

Laporan tersebut menggambarkan ini sebagai awal dari supercycle pengeluaran modal global yang baru. Supercycle adalah periode panjang investasi yang kuat dan berkelanjutan. Ini didorong oleh perubahan struktural, bukan hanya pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Beberapa kekuatan sedang mendorong siklus ini ke depan:

  • Perlombaan global untuk kecerdasan buatan

  • Peralihan menuju energi bersih

  • Meningkatnya ketegangan geopolitik

  • Dorongan untuk keamanan nasional dan ekonomi

Banyak negara berusaha untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok asing. Mereka membawa produksi kembali ke rumah atau mengalihkan ke negara mitra yang tepercaya. Ini dikenal sebagai reshoring atau friend-shoring.

Pacu AI, khususnya, sedang membentuk kembali pasar modal. Perusahaan teknologi dan industri besar meminjam secara besar-besaran dari pasar obligasi untuk membiayai ekspansi.

Kesimpulan

Dunia sekarang berada di titik kritis. Pemerintah telah menjadi peminjam terbesar. Pasar berkembang menghadapi tekanan refinancing yang memecahkan rekor. Pinjaman korporasi meningkat akibat gelombang investasi AI. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi tetap moderat. Jika pertumbuhan tetap lemah sementara utang terus meningkat, risiko ketidakstabilan keuangan dapat meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

$HNT

$IQ

$POL

#Debt