Meskipun sudah lebih dari satu dekade sejak Ripple mengembangkan solusi pembayaran, volume perdagangan di jaringan XRP Ledger (XRPL) masih terbatas 🔍, bahkan dengan lebih dari 300 kemitraan bank yang diumumkan.

💬 Kontroversi baru di internet mengangkat pertanyaan tentang sejauh mana penggunaan platform dan tantangan regulasi serta volatilitas token.

---

🚧 Mengapa tidak menggunakan Ripple Protokol DEX dalam sistem pembayarannya?

Alasan utama adalah ketidakpastian regulasi yang mengelilingi protokol desentralisasi untuk perdagangan (DEX). Ripple belum mengintegrasikan DEX ke dalam solusi institusionalnya, karena sulitnya memverifikasi penyedia likuiditas, yang dapat memungkinkan entitas yang dikenakan sanksi untuk lolos 🚫.

🧩 Solusi seperti "rentang yang diizinkan" mungkin dapat mengatasi masalah ini di masa depan, tetapi belum diterapkan. Oleh karena itu, pembayaran besar tetap berada di luar lingkungan DEX.

---

⚖️ Kontroversi seputar volatilitas XRP dan manfaatnya

📉 Beberapa orang melihat bahwa volatilitas harga melemahkan kepercayaan pengguna dibandingkan dengan stablecoin, tetapi ada yang melihatnya sebagai keuntungan untuk mendapatkan keuntungan dari pergerakan harga. Sebagai token jembatan, XRP memerlukan likuiditas yang kuat saat transfer, yang meningkatkan kegunaannya dalam menghubungkan aset.

📈 Terkait: XRPL mencatat angka rekor 5.1 juta transaksi dalam 24 jam!

---

💵 Stablecoin dan token aset riil

Apakah XRP masih diperlukan di era stablecoin? 🤔

Dengan adanya beberapa stablecoin yang terhubung dengan sistem keuangan yang berbeda, kebutuhan akan token jembatan netral seperti XRP tetap ada. Terutama dengan munculnya token aset riil dan penyebarannya di berbagai rantai 🔗.

---

🎯 Menurut Anda, apakah Ripple akan berhasil mengatasi tantangan regulasi dan menggunakan DEX dalam waktu dekat? Bagikan pendapat Anda👇

$XRP

XRP
XRPUSDT
1.3765
-1.74%

#XRP #RippleNews