Averaging posisi yang merugi adalah strategi di mana trader atau investor meningkatkan volume posisi yang merugi untuk menurunkan harga rata-rata masuk. Metode ini sering menarik pemula, tetapi sebenarnya hanya cocok untuk para profesional. Mari kita bahas mengapa.
1. Kontrol risiko
Bahaya utama dari averaging adalah risiko peningkatan kerugian. Pemula sering bertindak emosional dan terus melakukan averaging posisi dengan harapan pasar akan berbalik, tetapi jika tren tetap, kerugian dapat menjadi bencana. Para profesional dengan jelas menghitung volume transaksi, menggunakan stop-loss, dan mendiversifikasi portofolio mereka, yang meminimalkan risiko.
2. Analisis pasar yang mendalam
Trader berpengalaman tidak melakukan averaging posisi secara sembarangan, tetapi berdasarkan analisis yang mendetail. Mereka memahami alasan fundamental penurunan harga dan dapat menentukan level pembalikan yang mungkin. Sementara itu, pemula, yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup, berisiko terjebak dalam perangkap 'menangkap pisau yang jatuh'.
3. Ketersediaan modal
Para profesional memiliki modal yang cukup dan dengan jelas menghitung ukuran posisi maksimum yang diperbolehkan. Pemula mungkin tidak dapat bertahan dalam pergerakan yang berkepanjangan melawan posisi mereka karena kekurangan dana dan tuntutan margin.
4. Ketahanan psikologis
Averaging membutuhkan perhitungan yang dingin dan disiplin. Para profesional tidak membuat keputusan emosional, tetapi mengikuti strategi yang telah disusun sebelumnya. Sementara itu, pemula sering panik, melakukan transaksi impulsif, dan melakukan averaging posisi tanpa rencana yang jelas, yang hanya memperburuk keadaan mereka.
Kesimpulan
Averaging posisi yang merugi bisa menjadi strategi yang efektif, tetapi hanya di tangan para profesional. Pemula sebaiknya menghindari metode ini dan fokus pada manajemen risiko, analisis pasar yang tepat, dan penggunaan stop-loss.